islamic home schooling

Apa yang terpikirkan ketika membaca judul di atas?

Membayangkan home schooling dengan guru khusus yang didatangkan ke rumah? Plus penambahan materi agama islam untuk si kecil??

Kalau itu yang teman-teman pikirkan,saya tidak akan menyalahkannya… karena otak kita memang seperti itu kerjanya. Selalu mencoba mengasosiasikan satu hal dengan hal yang lain yang sebelumnya telah kita ketahui…

Islamic home schooling yang saya maksudkan disini adalah pendidikan islam di rumah, yang diajarkan oleh orang tua. Sederhana. Istilahnya saja yang lebih kece.

Orang tua yang saya maksudkan terutama adalah ibu. Kenapa? Karena  “Al ummu madrasatul ulaa”. Ibu adalah sekolah utama bagi putra-putrinya. Tugas utama seorang ibu dalam mengajar dan mendidik buah hatinya.

 Seorang Ibu akan sangat menentukan seperti apa kepribadian anaknya. Seorang ibu akan menjadi qudwah bagi buah hatinya. Pendidikan yang ia berikan saat pertama kali, menentukan pola pikir bahkan kecerdasan buah hatinya.

Disaat seperti  sekarang, dimana sekolah belum mampu menjadi jawaban atas permasalahan dekadensi moral. Kurikulum belum menyentuh hati para murid. Sehingga apa yang dipelajari murid hanya sebatas teori tanpa praktek. Atau ketika guru hanya sekedar mengajar tapi belum mendidik. Dan lingkungan sekolah menjadi momok yang menakutkan bagi orang tua.   

Maka sudah seharusnya kewajiban seorang ibu untuk memperbaiki segala permasalahan ini dari lingkungan rumahnya sendiri. Membangun seluruh aspek kecerdasan pada anak.  Memberikan makna atas segala hal yang dilakukan anak. Menjelaskan dengan bahasa sederhana tentang hubungan Allah dan manusia. Tidak hanya mengajarkan ritual, seperti sholat dan puasa. Tetapi lebih kepada selalu menghadirkan Allah disetiap aktivitas anak.

Tentunya ini adalah pekerjaan besar seorang ibu. Karena produk “institusi” mereka akan menentukan seperti apa pemimpin di masa yang akan datang. Pekerjaan besar ini sudah pasti menuntut para calon ibu ataupun ibu untuk terus mengupgrade kapabilitas dirinya. Mengevaluasi apakah telah memperbaiki agamanya. Membaguskan akhlaknya. Dan Meningkatkan wawasannya terhadapa segala hal. Dan yang paling penting adalah apakah telah memberikan teladan yang benar. Karena ketika orang tua tidak sejalan dengan yang mereka sampaikan, akan menyebabkan kebingungan pada anak. Dan tentu saja mengganggu perkembangan psikologis anak- anak mereka.

Ada sepenggal kisah yang sangat saya sukai, percakapan singkat antara seorang ibu yang luar biasa dan anaknya yang tak kalah luar biasa.

“Bunda, semua orang meninggalkanku, termasuk putra dan keluargaku. Sehingga yang tersisa tinggal pasukan kecil yang tidak mungkin bertahan kecuali sesaat saja. Sementara musuh menawarkan akan memberiku segala bentuk kekayaan yang aku minta (jika aku menyerah). Bagaimana pendapatmu?”

Kemudian ibu itu menjawab,” Demi Allah, putraku, engkau lebih mengerti tentang dirimu sendiri. Jika engkau benar- benar yakin dalam kebenaran, maka majulah terus. Ingatlah telah banyak pengikutmu yang terbunuh karena mempertahankan kebenaran itu. Tapi, jika yang engkau inginkan adalah kekayaan dunia, maka engkau adalah sejelek-jeleknya manusia. Engkau menghancurkan dirimu sendiri dan semua orang yang telah terbunuh karena mendukungmu! Jika engkau mengatakan,’Memang aku berada di pihak yang benar,tetapi karena para pendukungku pudar, maka akupun mundur’, itu bukanlah sikap orang –orang yang bebas dan taat beragama.

Mendengar pernyataan ibunya itu, pemuda tersebut mendekat lalu mencium dahi bundanya seraya berkata, “ Aku juga berpendapat seperti itu. Hanya saja, aku ingin mengetahui pendapatmu. Ternyata pendapatmu membuatku bertambah yakin. Lihatlah Bunda aku pasti terbunuh hari ini juga. Aku harap, janganlah engkau terlalu bersedih dengan takdir Allah ini. Sebab anakmu tidak pernah sengaja melakukan perbuatan mungkar atau mengerjakan maksiat, tidak pernah membuat keputusan hukum yang zalim, dan tidak pernah sengaja menzalimi seorang muslim atau non muslim yang terikat perjanjian damai. Demi Allah, aku tidak akan mengatakan semua ini untuk mengklaim diriku bersih, tapi untuk membesarkan hati ibuku agar terhibur atas kematianku.”

Adakah yang mengetahui siapa yang terlibat dalam percakapan ini?

Percakapan yang menggetarkan jiwa ini terjadi antara Asma binti Abu Bakar dan putranya Abdullah bin Zubair. Abdullah saat itu berkedudukan sebagai khalifah di wilayah Hijaz, Yaman, Irak dan Khurrasan. Kemudian ia dikepung oleh musuhnya Al Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Rival yang membunuh Abdullah ini adalah seseorang yang diperkirakan merupakan sosok dalam sabda Rasul “ Dari kabilah Tsaqif akan muncul dua pembohong besar, pembohong kedua lebih buruk dibandingkan pembohong pertama. Ditambah dia adalah seorang pembantai (mubiir).

Fokus pembahasan saat ini bukan peperangan atau pembunuhan Abdullah bin Zubair. Melainkan percakapan antara Asma dan putranya Abdullah. Percakapan yang menunjukkan kekuatan karakter Abdullah sebagai seorang hamba Allah, pemimpin dan putra dari Ibundanya Asma’. Percakapan ini adalah potret dari kecerdasan, kesabaran dan keistimewaan seorang Asma’ sebagai seorang ibu.

  Percakapan itu terjadi karena Sang Bunda Asma’ binti Abu Bakar dan putranya menggenggam erat iman di dalam hatinya. Abdullah bin Zubair telah menjadi pemuda cerdas. Kecerdasan itu tumbuh karena keimanan yang menancap di jiwanya. Kecerdasan yang membawanya menjadi khalifah/pemimpin di semenanjung arab pada saat itu. Kecerdasan itu menyebabkan hidup dan matinya mulia dimata Allah. Kecerdasan itu tidak membuatnya takut akan kematian.

Jika Abdullah bin Zubair telah mulia dimata Allah, tentu saja wanita yang membesarkannya lebih mulia lagi. Wanita yang menjadi figur panutan dimata Abdullah bin Zubair. Wanita yang menjadi standar nilai bagi Abdullah. Dan Wanita itu adalah Asma binti Abu Bakar.

            Jangan berkecil hati dulu ketika membaca sepenggal kisah diatas. Waktu tidaklah menjadi batasan untuk berbuat kebaikan dan melakukan hal-hal yang luar biasa,terutama di mata Allah. Setiap kita (red:wanita) pasti mampu melakukannya. Menjadi seperti Asma binti Abu Bakar yang telah sukses membangun keimanan di dalam dada putra kesayangannya.

 Ingatlah bahwa ini pekerjaan kita. Kesuksesan kita dalam mendidik putra-putri kita sama halnya dengan membangun pasukan yang siap tempur bagi agama dan Negara kita.

Maka saya tutup tulisan ini dengan sepotong ayat :

 Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (Q.S At-Tahrim :6)

 

oleh: Bulqis Vellaya Arlem, S.Ked

Mahasiswa FK Univ.Riau angkatan 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s