Demokrasi, dalam angan-angan dan realita.

Bismillahirrahmanirrahiim.
Negara kesatuan republik indonesia telah menerapkan suatu sistem kenegaraan yang bernama “demokrasi” selama kurang lebih 13 tahun (dihitung sejak reformasi). Sistem ini diterapkan karena dirasakan paling cocok dengan demografi dan kebudayaan bangsa indonesia.
Demokrasi, seperti yang saya pelajari saat di bangku sma, merupakan sistem kenegaraan yang berasal dari bangsa yunani, berasal dari kata “demos” dan “kratein”. Dalam sistem ini, rakyat merupakan penentu utama kebijakan suatu negara karena prinsip sistem ini adalah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Demokrasi kini merupakan sistem kenegaraan yang paling umum digunakan di negara-negara di seluruh dunia. Hal ini berkat sokongan dari negara adikuasa yakni amerika serikat.
Penerapan demokrasi di indonesia telah menimbulkan berbagai keuntungan dan terutama kerugian bagi indonesia sendiri. Keuntungannya adalah rakyat bebas menhekspresikan pendapatnya tanpa takut akan diintimidasi atau ditangkap oleh pemerintah. Namun, saya melihat lebih banyak kerugian yang didapat oleh bangsa indonesia. Yang paling jelas yakni dalam pelaksanaan pemilu atau pemilukada yang membutuhkan biaya pelaksanaan yang sangat besar. Apalagi jika harus diulang seperti yang terjadi pada pemilukada kota pekanbaru baru-baru ini.
Kualitas pemimpin yang dihasilkan dari pelaksanaan pemilu ini juga belum dapat diandalkan. Dimana masih banyak rakyat indonesia yang memilih bukan berdasarkan kualitasnya, namun berdasarkan berapa uang yang dibagikannya saat kampanye. Selain itu, pemilukada juga menjadi penyebab banyak kerusuhan di seluruh penjuru tanah air yang menelan korban jiwa dan harta.
Maka, sudah sepantasnyalah pemerintah dan tokoh-tokoh negara melakukan evaluasi terhadap sistem demokrasi yang diterapkan di indonesia saat ini. Mungkin perlu dilakukan perubahan sistem kenegaraan. Leluhur kita telah mewariskan sistem bernegara yang juga sesuai dengan keyakinan sehagian besar rakyat indonesia yaitu sistem musyawarah mufakat.
Wallahua’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s