Adakah malu itu menggelayuti hati- hati kita wahai muslimah?

Ibnu Abbas RA berkata pada sahabat Ato’ bin Rabah…

***

Wahai saudaraku, ingin tahukah engkau dengan wanita yang telah dijamin surga oleh Allah dan Rasulullah kemaren?

Lalu Ato’ pun berkata, tentu aku ingin mengetahuinya…ceritakanlah padaku apa yang wanita itu lakukan sehingga ia dijamin surga oleh Allah, lalu tunjukkan padaku  yang manakah wanita beruntung itu?

Kemudian Ibnu Abbas menarik tangan Ato’ sembari menunjuk seorang wanita berkulit hitam legam. Wanita yang jika dilihat sekilas, tidak akan menarik hati lelaki untuk menatapnya lagi. Wanita itu memang legam dan gelap. Tapi tahukah engkau Ato’? Bahwasanya ia telah dijamin surga oleh Rasul kita?

Ato’ bin Rabah pun berkata„ Duhai Ibnu Abbas kisahkanlah padaku, ada apa kiranya dengan wanita itu, hingga ia begitu mulia dimata Rasulullah?

Sesungguhnya wanita itu telah datang kepada Rasulullah, lalu ia berkata kepada Nabi..

Wahai Nabi Allah, mohonkanlah kepada Allah bagiku, agar aku sembuh dari sakitku. Aku ini menderita sakit kejang- kejang (epilepsi) dan ketika sakitku kambuh aku begitu malu karena auratku terbuka tanpa sengaja.

Lalu nabipun berkata , jika engkau bersabar atas sakitmu maka ada hal yang lebih baik yang akan kamu dapatkan, yaitu surgaNya Allah, tapi jika engkau memang tidak kuat lagi dengan sakitmu , maka aku akan berdoa kepada Allah, agar Allah menyembuhkanmu, ujar Rasulullah.

Maka wanita itupun menjawab, baiklah aku akan bersabar dengan sakitku ini ya Rasul. AKan tetapi ada hal lain yang tidak mampu aku sabari, yaitu terbukanya aurat ku ketika sakitku kambuh, tukas wanita legam itu..

Kemudian Nabi menjawab, baiklah aku akan berdoa kepada Allah, agar ketika sakitmu kambuh, auratmu tidak lagi terbuka.

Sejak nabi berdoa, aurat wanita itupun tidak pernah terbuka lagi meskipun di setiap kejangnya.

***

Adakah iktibar yang bisa kita tarik dari cerita singkat di atas saudari2ku??

Atau mungkin muncul rasa malu dan rendah dirimu dihadapan wanita ini, karena ia telah dijamin surga, sedangkan kita tidak ada apa-apanya.?

***

Sungguh malu rasanya, saat pertama kali saya mendengarkan kisah ini…

Seperti ada sindiran halus di ucapan wanita tersebut bagi saya atau bagi wanita lainnya… meskipun  memang sebenarnya ia tidak ada berniat menyindir wanita lain,.

Ia yang dengan ketulusan imannya, merasa sangat malu kepada Rabbnya karena terbuka auratnya, ketika epilepsinya kambuh.

Wanita legam, sedang sakit, dan jelas ia diringankan oleh Allah dalam perihal hukum.

***

Ttidak kah kita mendengar kisah Ibnu Abbas wahai ukhti sekalian,

Ia saja mampu bersabar atas sakitnya dan ia begitu ridho atas sakit yg dititipkan Allah padaNya,

Ia ikhlas dengan sakit yang ia derita, karena ia yakin terdapat keridhoan Allah denganNya…

Hanya saja ia tidak mampu bersabar untuk perihal TERBUKANYA AURAT, padahal jelas ia dalam keadaan UDZHUR..

 ***

Coba kita tengok ke dalam diri kita, mungkin wajah kita rupawan, berparas jelita, tapi adakah rasa malu yang sedemikian besarnya di diri kita? Rasa malu yang mengalahkan rasa sakitnya kejang-kejang??

Adakah Rasa malu yang membuat kita berazzam menutup aurat kapanpun? Adakah?

Ia saja yang telah jelas- jelas udzur di mata Allah, tetap saja berupaya agar tidak tersingkap auratnya..

Sementara kita? Sehat fisik, tidak mengidap penyakit apapun, masih begitu sering, sengaja memamerkan aurat kita, menguraikan rambut, memperjelas lekuk tubuh,dan  menampakkan apa yang tidak seharusnya terlihat…

***

Karena ketulusan iman di dalam dadanya ,wanita tersebut mampu memelihara rasa malu pada Rabbnya..

Lantas, Adakah malu itu menggelayuti hati- hati kita wahai muslimah?

 

( tulisan ini pertama kali ditelunjukkan bagi diri sendiri yang masih jauh akhlaknya dari wanita di atas)

 

Oleh: Bulqis Vellaya Arlem, S.Ked

Mahasiswa FK Univ Riau angkatan 2008

islamic home schooling

Apa yang terpikirkan ketika membaca judul di atas?

Membayangkan home schooling dengan guru khusus yang didatangkan ke rumah? Plus penambahan materi agama islam untuk si kecil??

Kalau itu yang teman-teman pikirkan,saya tidak akan menyalahkannya… karena otak kita memang seperti itu kerjanya. Selalu mencoba mengasosiasikan satu hal dengan hal yang lain yang sebelumnya telah kita ketahui…

Islamic home schooling yang saya maksudkan disini adalah pendidikan islam di rumah, yang diajarkan oleh orang tua. Sederhana. Istilahnya saja yang lebih kece.

Orang tua yang saya maksudkan terutama adalah ibu. Kenapa? Karena  “Al ummu madrasatul ulaa”. Ibu adalah sekolah utama bagi putra-putrinya. Tugas utama seorang ibu dalam mengajar dan mendidik buah hatinya.

 Seorang Ibu akan sangat menentukan seperti apa kepribadian anaknya. Seorang ibu akan menjadi qudwah bagi buah hatinya. Pendidikan yang ia berikan saat pertama kali, menentukan pola pikir bahkan kecerdasan buah hatinya.

Disaat seperti  sekarang, dimana sekolah belum mampu menjadi jawaban atas permasalahan dekadensi moral. Kurikulum belum menyentuh hati para murid. Sehingga apa yang dipelajari murid hanya sebatas teori tanpa praktek. Atau ketika guru hanya sekedar mengajar tapi belum mendidik. Dan lingkungan sekolah menjadi momok yang menakutkan bagi orang tua.   

Maka sudah seharusnya kewajiban seorang ibu untuk memperbaiki segala permasalahan ini dari lingkungan rumahnya sendiri. Membangun seluruh aspek kecerdasan pada anak.  Memberikan makna atas segala hal yang dilakukan anak. Menjelaskan dengan bahasa sederhana tentang hubungan Allah dan manusia. Tidak hanya mengajarkan ritual, seperti sholat dan puasa. Tetapi lebih kepada selalu menghadirkan Allah disetiap aktivitas anak.

Tentunya ini adalah pekerjaan besar seorang ibu. Karena produk “institusi” mereka akan menentukan seperti apa pemimpin di masa yang akan datang. Pekerjaan besar ini sudah pasti menuntut para calon ibu ataupun ibu untuk terus mengupgrade kapabilitas dirinya. Mengevaluasi apakah telah memperbaiki agamanya. Membaguskan akhlaknya. Dan Meningkatkan wawasannya terhadapa segala hal. Dan yang paling penting adalah apakah telah memberikan teladan yang benar. Karena ketika orang tua tidak sejalan dengan yang mereka sampaikan, akan menyebabkan kebingungan pada anak. Dan tentu saja mengganggu perkembangan psikologis anak- anak mereka.

Ada sepenggal kisah yang sangat saya sukai, percakapan singkat antara seorang ibu yang luar biasa dan anaknya yang tak kalah luar biasa.

“Bunda, semua orang meninggalkanku, termasuk putra dan keluargaku. Sehingga yang tersisa tinggal pasukan kecil yang tidak mungkin bertahan kecuali sesaat saja. Sementara musuh menawarkan akan memberiku segala bentuk kekayaan yang aku minta (jika aku menyerah). Bagaimana pendapatmu?”

Kemudian ibu itu menjawab,” Demi Allah, putraku, engkau lebih mengerti tentang dirimu sendiri. Jika engkau benar- benar yakin dalam kebenaran, maka majulah terus. Ingatlah telah banyak pengikutmu yang terbunuh karena mempertahankan kebenaran itu. Tapi, jika yang engkau inginkan adalah kekayaan dunia, maka engkau adalah sejelek-jeleknya manusia. Engkau menghancurkan dirimu sendiri dan semua orang yang telah terbunuh karena mendukungmu! Jika engkau mengatakan,’Memang aku berada di pihak yang benar,tetapi karena para pendukungku pudar, maka akupun mundur’, itu bukanlah sikap orang –orang yang bebas dan taat beragama.

Mendengar pernyataan ibunya itu, pemuda tersebut mendekat lalu mencium dahi bundanya seraya berkata, “ Aku juga berpendapat seperti itu. Hanya saja, aku ingin mengetahui pendapatmu. Ternyata pendapatmu membuatku bertambah yakin. Lihatlah Bunda aku pasti terbunuh hari ini juga. Aku harap, janganlah engkau terlalu bersedih dengan takdir Allah ini. Sebab anakmu tidak pernah sengaja melakukan perbuatan mungkar atau mengerjakan maksiat, tidak pernah membuat keputusan hukum yang zalim, dan tidak pernah sengaja menzalimi seorang muslim atau non muslim yang terikat perjanjian damai. Demi Allah, aku tidak akan mengatakan semua ini untuk mengklaim diriku bersih, tapi untuk membesarkan hati ibuku agar terhibur atas kematianku.”

Adakah yang mengetahui siapa yang terlibat dalam percakapan ini?

Percakapan yang menggetarkan jiwa ini terjadi antara Asma binti Abu Bakar dan putranya Abdullah bin Zubair. Abdullah saat itu berkedudukan sebagai khalifah di wilayah Hijaz, Yaman, Irak dan Khurrasan. Kemudian ia dikepung oleh musuhnya Al Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Rival yang membunuh Abdullah ini adalah seseorang yang diperkirakan merupakan sosok dalam sabda Rasul “ Dari kabilah Tsaqif akan muncul dua pembohong besar, pembohong kedua lebih buruk dibandingkan pembohong pertama. Ditambah dia adalah seorang pembantai (mubiir).

Fokus pembahasan saat ini bukan peperangan atau pembunuhan Abdullah bin Zubair. Melainkan percakapan antara Asma dan putranya Abdullah. Percakapan yang menunjukkan kekuatan karakter Abdullah sebagai seorang hamba Allah, pemimpin dan putra dari Ibundanya Asma’. Percakapan ini adalah potret dari kecerdasan, kesabaran dan keistimewaan seorang Asma’ sebagai seorang ibu.

  Percakapan itu terjadi karena Sang Bunda Asma’ binti Abu Bakar dan putranya menggenggam erat iman di dalam hatinya. Abdullah bin Zubair telah menjadi pemuda cerdas. Kecerdasan itu tumbuh karena keimanan yang menancap di jiwanya. Kecerdasan yang membawanya menjadi khalifah/pemimpin di semenanjung arab pada saat itu. Kecerdasan itu menyebabkan hidup dan matinya mulia dimata Allah. Kecerdasan itu tidak membuatnya takut akan kematian.

Jika Abdullah bin Zubair telah mulia dimata Allah, tentu saja wanita yang membesarkannya lebih mulia lagi. Wanita yang menjadi figur panutan dimata Abdullah bin Zubair. Wanita yang menjadi standar nilai bagi Abdullah. Dan Wanita itu adalah Asma binti Abu Bakar.

            Jangan berkecil hati dulu ketika membaca sepenggal kisah diatas. Waktu tidaklah menjadi batasan untuk berbuat kebaikan dan melakukan hal-hal yang luar biasa,terutama di mata Allah. Setiap kita (red:wanita) pasti mampu melakukannya. Menjadi seperti Asma binti Abu Bakar yang telah sukses membangun keimanan di dalam dada putra kesayangannya.

 Ingatlah bahwa ini pekerjaan kita. Kesuksesan kita dalam mendidik putra-putri kita sama halnya dengan membangun pasukan yang siap tempur bagi agama dan Negara kita.

Maka saya tutup tulisan ini dengan sepotong ayat :

 Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (Q.S At-Tahrim :6)

 

oleh: Bulqis Vellaya Arlem, S.Ked

Mahasiswa FK Univ.Riau angkatan 2008

Hadits-hadits Tentang Keutamaan Menjenguk dan Menemani Orang Sakit 1

Image

1. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla berfirman pada hari kiamat: “Wahai anak Adam, Aku telah sakit namun kamu tidak menjenguk-Ku”. Anak Adam pun bertanya:’Bagaimana mungkin aku menjenguk-Mu, padahal Engkau adalah Rabb semesta alam’. Allah berfirman: ‘Tidakkah engkau mengetahui hamba-Ku fulan sedang sakit, namun engkau tidak menjenguknya? Seandainya engkau menjenguknya niscaya engkay akan mendapatkan Aku di sisinya.” HR Muslim, kitab al-Birr was-Shilah wal Adab, bab Fadhlu ‘Iyaadatil Mariidh

Sumber: Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah. Bimbingan Rohani untuk Orang Sakit-Tuntunan untuk Pasien, Dokter, Perawat, Keluarga dan Yang Menjenguk. Bogor: Pustaka Ibnu ‘Umar. Halaman 2-3

Gambar dari: http://www.iluvislam.com/design/e-kad/1709-syafakallah-dan-syafakillah.html

The Story of A Pot of Gold – A Precious Lesson

This is a story of an ancient time, before the birth of our Prophet, Muhammad -peace and blessings of Allah be upon him-. This beautiful story tells us the meaning of trustworthiness, self-restraining from anything that can harm one’s self (zuhd), honesty, and wara’, the scarce qualities to be found in man nowadays.

Al Imam Al Bukhari and Muslim narrated from Abu Huraira -may Allah be pleased with him-, he said: The Messenger of Allah -peace and blessings of Allah be upon him- said:

“A man bought a piece of land from another man, and the buyer found an earthenware jar filled with gold in the land.

The buyer said to the seller, ‘Take your gold, as I have bought only the land from you, but I have not bought the gold from you.’

The (former) owner of the land said, ‘I have sold you the land with everything in it.’ Continue reading

Imam & Khathib Masjid Al Haram, Ahmad Al Khathib Al Minangkabawi

A. Muqaddimah
Dalam panggung sejarah, Islam sudah lama dikenal oleh penduduk Melayu. Bahkan menurut Ustadz ‘Abdul Malik bin ‘Abdul Karim bin Amrullah rahimahullah atau yang lebih dikenal dengan Hamka, Islam sudah melebarkan sayapnya di bumi Melayu sejak abad pertama hijriah. Namun sayang, meski Islam sudah sekian abad di Melayu, ajaran-ajaran yang diamalkan kaum muslimin di sana banyak yang menyimpang dari ajaran Islam yang dibawa Rasulullah. Ajaran-ajaran tasawwuf ala shufi dan keyakinan-keyakinan bid’ah dan sesat seperti takhayul, khurafat sampai ajaran martabat tujuh atau wihdatul wujud banyak mewarnai amalan-amalan kaum muslimin di bumi Melayu.

Seiring bergulingnya waktu, kaum muslimin di Melayu mulai sadar akan kekeliruan ajaran yang selama ini mereka anggap bagian dari Islam justru bertentangan. Maka usaha-usaha dalam memurnikan ajaran Islam di Melayu pun segera dimulai. ‘Episode’ pertama diawali oleh tiga jama’ah haji yang membawa oleh-oleh dari Tanah Suci berupa ‘filter’ ajaran sesat di ranah Minangkabau. Kemudian ‘episode’ berikutnya ditunjukkan oleh Syaikh Ahmad Al Khathib rahimahullah, seorang ulama yang muqim di Makkah yang terkenal dengan kegigihannya dalam menyerang kelompok-kelompok ahlul bida’ wal ahwa’ dan adat-adat yang bertentangan dengan syariat Islam baik melalui tulisan-tulisan maupun murid-muridnya yang kembali ke Melayu.

B. Nasab & Kelahiran Syaikh Ahmad Al Khathib

Beliau bernama lengkap Al ‘Allamah Asy Syaikh Ahmad bin ‘Abdul Lathif [bin ‘Abdurrahman] bin ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al Khathib Al Minangkabawi [Al Minkabawi] Al Jawi Al Makki Asy Syafi’i Al Atsari rahimahullah. Syaikh Ahmad Al Khathib dilahirkan di Koto Tuo, Desa Kota Gadang, Kec. Ampek Angkek Angkat Candung, Kab. Agam, Prov. Sumatera Barat pada hari Senin 6 Dzul Hijjah 1276 H bertepatan dengan 26 Mei 1860 M di tengah keluarga bangsawan. ‘Abdullah, kakek Syaikh Ahmad atau buyut menurut riwayat lain, adalah seorang ulama kenamaan. Oleh masyarakat Koto Gadang, ‘Abdullah ditunjuk sebagai imam dan khathib. Sejak itulah gelar Khathib Nagari melekat dibelakang namanya dan berlanjut ke keturunannya di kemudian hari.

Ada perbedaan mengenai siapa kakek Syaikh Ahmad. Menurut ‘Umar ‘Abdul Jabbar, ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al Mu’allimi, dan Ibrahim bin ‘Abdullah Al Hazimi, kakek Syaikh Ahmad adalah ‘Abdullah. Sedangkan menurut Dadang A. Dahlan, kakek Syaikh Ahmad adalah ‘Abdurrahman yang bergelar Datuk Rangkayo Basa. Terlepas dari perbedaan itu, yang jelas Syaikh Ahmad berasal dari keluarga bangsawan, baik dari jalur ayah maupun ibu.

C. Perjalanan Syaikh Ahmad dalam Thalabul ‘Ilmi

Ketika masih di kampung kelahirannya, Ahmad kecil sempat mengenyam pendidikan formal, yaitu pendidikan dasar dan berlanjut ke Sekolah Raja atau Kweek School yang tamat tahun 1871 M.
Di samping belajar di pendidikan formal yang dikelola Belanda itu, Ahmad kecil juga mempelajari mabadi’ (dasar-dasar) ilmu agama dari Syaikh ‘Abdul Lathif, sang ayah. Dari sang ayah pula, Ahmad kecil menghafal Al Quran dan berhasil menghafalkan beberapa juz.

Continue reading

Resensi Buku: Prioritas dalam Ilmu, Amal, dan Dakwah

Penulis: Syaikh Hasan bi ‘Audah al ‘Awaisyah
Penerjemah: Tim Pustaka Imam Asy-Syafi’i
Penerbit: Pustaka Imam Asy-Syafi’i
Jumlah halaman: xviii+177;15,8×12 cm

“Ilmu, amal dan dakwah, samam pentingnya bagi seorang Muslim, karena ketiganya merupakan konsekuensi logis bagi keislamannya. Di samping itu, ketiganya merupakan amal shalih yang menjadi penentu kebahagiaan hidupnya di dunia dan di akhirat.
Namun, tidak sedikit orang yang bingung, manakah dari ketiga hal tersebut yang harus didahulukan daripada yang lain? Ilmukah? Amalkah? Dakwahkah? Atau ketiga-tiganya sama-sama dilakukan? Dari manakah kita memulai dakwah? Siapakah yang harus kita dakwahi terlebih dahulu? Bagaimana jadinya, orang berdakwah tanpa ilmu dan amal? Atau berilmu tanpa beramal? Dan lain sebagainya.”
Buku ini dirasa sangat pas untuk dimiliki oleh teman-teman para penuntut ilmu, terutama teman-teman yang ingin atau telah terjun ke dalam dunia dakwah, agar kita tidak salah langkah dan salah jalan dalam mendakwahkan agama islam ini. Selamat membeli dan membacanya. Semoga bermanfaat.

Info: untuk wilayah Pekanbaru dapat diperoleh di Toko Buku Pustaka Ilmu, jalan Balam, Sukajadi. (Peresensi membelinya disana)