Syekh al-Albani, Ulama Hadis Abad Ini

Hadis merupakan salah satu rujukan sumber hukum Islam di samping kitab suci Alquran. Di dalam hadis itulah terkandung jawaban dan solusi masalah yang dihadapi oleh umat di berbagai bidang kehidupan. Berbicara tentang ilmu hadis, umat Islam tidak akan melupakan jasa Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani, atau yang lebih dikenal dengan Syekh al-Albani. Ia merupakan salah satu tokoh pembaru Islam abad ini.

Karya dan jasa-jasanya cukup banyak dan sangat membantu umat Islam terutama dalam menghidupkan kembali ilmu hadis. Ia berjasa memurnikan ajaran Islam dari hadis-hadis lemah dan palsu serta meneliti derajat hadis. Nama lengkap beliau adalah Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin al-Haj Nuh al-Albani. Dilahirkan pada tahun 1333 H (1914 M) di Ashqodar (Shkodra), ibukota Albania masa lampau. Ia dibesarkan di tengah keluarga yang tak berpunya secara materi, namun sangat kaya ilmu, khususnya ilmu agama. Ayahnya, al-Haj Nuh, adalah lulusan lembaga pendidikan ilmu-ilmu syari’at di ibukota negara kesultanan Turki Usmani (yang kini menjadi Istanbul). Ia wafat pada hari Jumat malam, 21 Jumadil Tsaniyah 1420 H, atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999, di Yordania.

Ketika Ahmet Zogu berkuasa di Albania dan mengubah sistem pemerintahan menjadi pemerintah sekuler, Syeikh al-Haj Nuh amat mengkhawatirkan dirinya dan diri keluarganya. Akhirnya ia memutuskan untuk berhijrah ke Syam (Suriah, Yordania dan Lebanon sekarang) dalam rangka menyelamatkan agamanya dan karena takut terkena fitnah. Dari sana, ia sekeluarga bertolak ke Damaskus.

Setiba di Damaskus, Syekh al-Albani kecil mulai mempelajari bahasa Arab. Ia masuk sekolah madrasah yang dikelola oleh Jum’iyah al-Is’af al-Khairiyah. Ia belajar di sekolah tersebut hingga kelas terakhir dan lulus di tingkat Ibtida’iyah. Selanjutnya, ia meneruskan belajarnya langsung kepada para ulama. Ia belajar Alquran dari ayahnya sampai selesai, selain juga mempelajari sebagian fiqih mazhab Hanafi. Ia juga mempelajari keterampilan memperbaiki jam dari ayahnya sampai mahir betul. Keterampilan ini kemudian menjadi salah satu mata pencahariannya.

Pada usia 20 tahun, ia mulai mengkonsentrasikan diri pada ilmu hadis lantaran terkesan dengan pembahasan-pembahasan yang ada dalam majalah al-Manar, sebuah majalah yang diterbitkan oleh Syeikh Muhammad Rasyid Ridha. Kegiatan pertama di bidang ini ialah menyalin sebuah kitab berjudul al-Mughni ‘an Hamli al-Asfar fi Takhrij ma fi al-Ishabah min al-Akhbar, sebuah kitab karya al-Iraqi, berupa takhrij terhadap hadits-hadits yang terdapat pada Ihya’ Ulumuddin karangan Imam al-Ghazali. Kegiatan Syekh Al-Albani dalam bidang hadis ini ditentang oleh ayahnya yang berkomentar, ”Sesungguhnya ilmu hadits adalah pekerjaan orang-orang pailit.”

Namun, Syeikh al-Albani justru semakin menekuni dunia hadis. Pada perkembangan berikutnya, al-Albani tidak memiliki cukup uang untuk membeli kitab. Karenanya, beliau memanfaatkan Perpustakaan az-Zhahiriyah di Damaskus. Disamping juga meminjam buku dari beberapa perpustakaan khusus. Karena kesibukannya ini, ia sampai-sampai menutup kios reparasi jamnya. Ia tidak pernah beristirahat menelaah kitab-kitab hadis, kecuali jika waktu shalat tiba.

Akhirnya kepala kantor perpustakaan memberikan sebuah ruangan khusus di perpustakaan untuk beliau. Bahkan kemudian ia diberi wewenang untuk membawa kunci perpustakaan. Dengan demikian, ia menjadi makin leluasa dan terbiasa datang sebelum pengunjung lain datang. Begitu pula, ketika orang lain pulang pada waktu shalat zuhur, ia justru pulang setelah shalat isya. Hal ini dijalaninya selama bertahun-tahun.

Menulis dan mengajar

Semasa hidupnya, beliau secara rutin mengisi sejumlah jadwal kajian yang dihadiri para penuntut ilmu dan dosen-dosen untuk membahas kitab-kitab. Dari sinilah kemudian ia banyak menulis karya ilmiah dalam bidang hadis, fiqih dan akidah. Karya-karya ilmiahnya ini membuat beliau menjadi tokoh yang memiliki reputasi yang baik dan sebagai rujukan alim ulama.

Oleh karena itu, pihak Jami’ah Islamiyyah (Universitas Islam Madinah) meminta beliau untuk mengajar hadis dan ilmu-ilmu hadis di perguruan tinggi tersebut. Beliau bertugas selama tiga tahun, dari 1381 H sampai 1383 H. Setelah itu ia pindah ke Yordania. Pada tahun 1388 H, Departemen Pendidikan Yordania meminta Syekh al-Albani untuk menjadi ketua jurusan Dirasah Islamiyah pada program pasca sarjana di sebuah Perguruan Tinggi di Kerajaan Yordania.Tetapi situasi dan kondisi saat itu tidak memungkinkan beliau memenuhi permintaan itu.

Pada tahun 1395-1398 H ia kembali ke Madinah untuk bertugas sebagai anggota Majelis Tinggi Jam’iyah Islamiyah di sana. Di negeri itu pula, al-Albani mendapat penghargaan tertinggi dari kerajaan Arab Saudi berupa King Faisal Foundation atas jasa-jasanya dalam mengajarkan ilmu hadis pada tanggal 14 Dzulqa’idah 1419 H.

Sebelum berpulang, Syekh Al-Albani berwasiat agar perpustakaan pribadinya, baik berupa buku-buku yang sudah dicetak, buku-buku hasil fotokopi, manuskrip-manuskrip (yang ditulis olehnya ataupun orang lain) seluruhnya diserahkan kepada pihak Perpustakaan Jami’ah Islamiyyah.

Karya-karya beliau amat banyak, ada yang sudah dicetak, ada yang masih berupa manuskrip dan ada yang hilang. Jumlahnya sekitar 218 judul. Karya yang terkenal antara lain: Dabuz-Zifaf fi As-Sunnah al-Muthahharah, Al-Ajwibah an-Nafi’ah ‘ala as’ilah masjid al-Jami’ah, Silisilah al-Ahadits ash Shahihah, Silisilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah, At-Tawasul wa anwa’uhu, dan Ahkam Al-Jana’iz wabida’uha. Di samping itu, beliau juga memiliki buku kumpulan ceramah, bantahan terhadap berbagai pemikiran sesat, dan buku berisi jawaban-jawaban tentang berbagai masalah yang yang dihadapi umat Islam.

Kritikan yang Menuai Penjara

Kejelian dalam menganalisa hadis telah membuka cakrawala baru bagi Syekh al-Albani. Ia sering dihadapkan kepada kenyataan hidup yang menyimpang dari tuntutan Rasul. Praktik-praktik agama sehari-hari yang dipandang sebagai Sunnah rasul oleh sebagian anggota masyarakat sebenarnya tidak lain dari bid’ah (penyimpangan dalam agama) yang tidak beralasan. Ia juga harus berhadapan dengan gejala fanatik mazhab yang berkembang di kalangan ulama, termasuk ayahnya sendiri yang sangat mengkultuskan mazhab Imam Abu Hanifah. Al-Albani akhirnya membulatkan tekad untuk menghapuskan praktik-praktik keagamaan yang tidak benar ini melalui berbagai pengarahan kepada masyarakat.

Al-Albani mengakui banyak terpengaruh oleh metode penelitian akademis seperti dilakukan oleh Rasyid Ridha, terutama dalam meneliti warisan pengetahuan Islam. Karya ilmiah Islam pertama yang ditelitinya adalah buku Ihya’ Ulumi ‘d-Din karya Imam al-Ghazali. Beliau mulai tertarik dengan karya ini setelah membaca sebuah essai yang ditulis oleh Rasyid Ridha. Beliau telah mengumpulkan berbagai tanggapan yang ditulis tentang buku Ihya’ Ulumi ‘d-Din dan meneliti semua hadis serta sumber yang dipakai Imam al-Ghazali dalam buku ini.

Beliau tidak segan-segan merevisi pendapat ulama-ulama mujtahidin bila berdasarkan pengamatan beliau, para ulama tersebut ceroboh dalam mempergunakan hadis atau jauh dari jiwa syari’at Islam. Beliau tidak peduli apakah yang ceroboh tersebut adalah imam mazhab seperti Abu Hanifah atau Ibnul Qayyim al-Juaziyah dan Ibnu Taimiyyah, apalagi ulama-ulama belakangan yang lebih banyak mendalami pengkajian mazhab tetapi kurang hati-hati dalam menggunakan sabda Rasul. Justru kritikan semacam ini kadang-kadang membuat beliau bentrok dengan ulama-ulama setempat yang merasa kewibawaan mereka terlangkahi.

Selanjutnya campur tangan penguasa politik pun sulit untuk dihindari karena pendapat beliau dianggap menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Sebagai akibatnya, Syekh al-Albani pernah mendapat pencekalan dan mendekam dalam penjara karena mempertahankan kebenaran pendapatnya. Tercatat beliau dua kali mendekam dalam penjara. Kali pertama selama satu bulan dan kali kedua selama enam bulan.

Kendati banyak yang tidak menyukainya, namun tidak sedikit juga ulama-ulama dan kaum pelajar yang simpati terhadap dakwah beliau sehingga dalam majelisnya selalu dipenuhi oleh para penuntut ilmu yang haus akan ilmu yang sesuai dengan Alquran dan Sunnah. dia/taq

Sumber: Republika

JADILAH KUNCI KEBAIKAN

عن أنس بن مالك قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ” إن من الناس مفاتيح للخير مغاليق للشر و إن من الناس مفاتيح للشر مغاليق للخير ، فطوبى لمن جعل الله مفاتيح الخير على يديه ، و ويل لمن جعل الله مفاتيح الشر على يديه “

Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, ‘Sesungguhnya diantara manusai ada yang menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan. Dan diantara manusia ada pula yang menjadi kunci-kunci pembuka keburukan dan penutup kebaikan. Maka beruntunglah orang yang Allah jadikan kunci-kunci kebaikan di tangannya dan celakalah bagi orang-orang yang Allah jadikan kunci-kunci keburukan di tangannya”.[1]

Barangsiapa yang ingin menjadi kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan , hendaklah ia memenuhi hal berikut ini :

1. Ikhlas untuk Allah dalam perkataan dan perbuatan. Karena ikhlas adalah asas segala kebaikan dan mata air segala keutamaan.

2. Senantiasa berdo’a kepada Allah memohon bimbingan untuk menjadi kunci kebaikan. Karena do’a adalah kunci segala kebaikan. Allah tidak akan menolak hamba-Nya yang berdo’a kepada-Nya serta tidak akan menyia-nyiakan seorang mukmin yang menyeru-Nya.

3. Bersemangat menuntut dan mendapatkan ilmu. Karena ilmu mengajak kepada keutamaan dan akhlak yang mulia, serta penghalang dari akhlak tercela dan perbuatan keji.

4. Menjalakan ‘ibadatullah terutama yang fardhu, dan khususnya lagi sholat. Karena ia mencegah dari perbuatan keji dan munkar.

5. Menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, serta menjauh dari akhlak tercela.

6. Berteman dengan orang-orang baik dan sholeh. Karena duduk bersama orang-orang yang sholeh dinaungi malaikat dan diliputi rahmat. Serta menjauhkan diri dari duduk di majelis orang-orang yang jahat dan tidak baik, sesungguhnya itu adalah tempat singgah setan.

7. Menasehati manusia ketika bergaul dan berbaur dengan mereka, dengan cara menyibukkan mereka dengan kebaikan dan memalingkan mereka dari keburukan.

8. Mengingat hari berbangkit dan sa’at berdiri di hadapan Robbul ‘Alamiin. Ketika Ia membalas orang yang baik dengan kebaikan dan orang yang jahat dengan hukuman. (Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.[2])

9. Dan pilar penyanggah semua itu adalah keinginan seorang hamba kepada kebaikan serta memberi manfaat kepada orang lain. Apabila keinginan seseorang kuat, niat dan tekad sudah bulat serta memohon pertolongan kepada Allah dalam melakukan itu, lalu melakukannya sesuai jalurnya. Maka dengan izin Allah akan menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan.[3]

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita sebagai kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan. Amiin.

[1] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (237) dan dihasankan oleh Al-Albany di Shohih Sunan Ibnu Majah (194).

[2] Al-Zalzalah : 7-8.

[3] Al-Fawaid Al-Mantsuroh (161-162) oleh Syaikh Dr. Abdurrozaq bin Abdu Muhsin Al-Badr.

sumber : abuzubair.net

Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw…

Muhammad terus berdakwah. Khadijah dengan sabar terus mendorong suaminya itu sampai harta keluarga mereka habis. Tekanan semakin keras. Selama tiga tahun kaum Quraisy mengucilkan orang-orang Islam. Mereka hanya dapat tinggal di celah-celah batu perbukitan dengan bergantung makan pada rumput-rumput kering.

Seorang Quraisy, Hisyam bin Amir bersimpati pada keadaan orang-orang Islam itu. Ia menghubungi Zuhair dari Bani Makhzum, Muth’im dan Bani Naufal serta Abu Bakhtari dan Zam’a dari Bani Asad untuk menghentikan pengucilan itu. Ia ingatkan betapa buruk kelaparan yang diderita Muhammad dan pengikutnya, sedangkan saudara-saudara lainnya hidup berkelimpahan.

Mereka lalu datang ke Ka’bah. Di dinding Ka’bah dicantumkan piagam pengucilan itu. Pengucilan tidak berlaku lagi bila piagam tersebut dirobek. Setelah mengelilingi Ka’bah tujuh kali, Hisyam mengumumkan rencana perobekan piagam. Abu Jahal menentangnya. Namun sebagian besar orang Quraisy mendukung Hisyam. Ketika Hisyam hendak merobek piagam itu, demikian menurut riwayat-rayap telah menggerogoti piagam itu hingga tinggal bagian atasnya yang bertulis “Atas nama-Mu ya Allah”.

Kaum Quraisy sebenarnya tidak menolak menyembah Allah Sang Pencipta. Mereka hanya ingin dibolehkan untuk tetap juga menyembah berhala serta melaksanakan tradisi yang banyak diwarnai maksiat. Maka, persis setelah penghapusan piagam itu, mereka mengajak Muhammad berkompromi. Suatu malam, dalam pertemuan sampai pagi, mereka telah menyebut Muhammad sebagai “pemimpin kami”. Mereka hanya minta sedikit kelonggaran menjalani kehidupan lamanya.

Sekali lagi, Muhammad adalah manusia. Dalam keadaan yang sangat lemah baik fisik maupun psikis, ia nyaris menerima kompromi itu. Sebagaimana saat mengabaikan Ibnu Ummu Maktum, kali ini Muhammad ditegur Allah kembali. Yakni melalui ayat Qu’ran Surat 17(Al-Isra):73-75). Namun hadis Ata’ dari Ibn Abbas menyebut bahwa konteks turunnya ayat ini adalah peristiwa saat Muhammad bimbang atas permintaan orang-orang Thaqif. Mereka bersedia memeluk Islam asal daerahnya dinyatakan sebagai tanah suci seperti Mekah.

Tak lama setelah peristiwa itu, Muhammad mengalami musibah besar. Abu Thalib, paman yang telah memeliharanya sejak kecil serta terus melindunginya sebagai rasul telah wafat. Hanya beberapa bulan kemudian, Khadijah yang menjadi sandaran hati Muhammad, orang yang paling setia menghibur dan menemani di masa yang paling sulit sekalipun menyusul wafat. Muhammad sangat berduka. Sedangkan orang-orang Quraisy makin gencar mengganggunya.

Muhammad lalu pergi Ta’if, menjajaki sekiranya masyarakat di daerah pertanian subur itu bersedia mendengar seruannya. Seorang diri ia pergi ke sana. Namun yang ditemui hanyalah sorak sorai hinaan serta lemparan. Dengan sedih Muhammad menghindar dari mereka dan berlindung di kebun anggur milik dua saudara ‘Uthba dan Syaiba anak Rabi’a. Di sanalah Muhammad memanjatkan doa kepiluannya. Hanya dengan Adas -seorang Nasrani budak Uthba’ yang memberikan anggur padanya-Muhammad sempat berbincang. Kabarnya, Adas sempat heran bagaimana Muhammad mengenal nama (Nabi) Yunus anak Matta.

Muhammad kemudian menikahi Aisyah, putri Abu Bakar, yang kala itu baru berusia tujuh tahun. Dalam kultur Arab, perkawinan adalah salah satu tradisi untuk mempererat persahabatan. Aisyah tetap tinggal di rumah ayahnya dan tidak digauli Muhammad sampai beberapa tahun kemudian. Muhammad juga menikahi janda miskin Sauda. Suami terdahulu Sauda adalah seorang yang ikut hijrah ke Habsyi, lalu meninggal di Mekah. Dua perkawinan ini, juga yang lain, cukup menjelaskan latar belakang pernikahan-pernikahan Muhammad setelah Khadijah wafat.

Sekitar tahun 621 Masehi, terjadilah peristiwa Isra’ Mi’raj. Muhammad tengah menginap di rumah keluarga sepupunya, Hindun binti Abu Thalib. Menurut Hindun, malam hari selesai salat terakhir, semua anggota keluarga tidur. Demikian pula Muhammad. Pagi harinya, mereka salat bersama. Usai salat itulah Muhammad berkata: “Ummi Hani (panggilan Hindun), saya shalat akhir malam bersama kalian seperti yang kalian lihat di sini. Lalu saya ke Baitul Maqdis (Yerusalem) dan salat di sana, sekarang saya shalat siang bersama-sama seperti yang kalian lihat.”

Hindun minta Muhammad untuk tidak menceritakan kisah tersebut karena akan mengundang kegemparan. “Tapi saya harus ceritakan (ini) pada mereka,” kata Muhammad. Allah pun menegaskan peristiwa itu dalam Surat 17 (Al-Isra)

Kegemparan pun terjadi. Sangat banyak kisah yang beredar mengenai peristiwa tersebut, baik dongeng sama sekali tanpa dasar maupun kisah yang berdasar. Di antara kisah tersebut adalah mitos ‘Buraq’ yang disebut kuda pirang dengan rumbai emas dan mutiara dan bersayap gemerlapan, Juga mengenai kesaksian Muhammad terhadap berbagai jenis siksaan di akhirat, pertemuannya dengan para Nabi terdahulu, serta tawar-menawar antara Muhammad dengan Allah sehingga shalat yang diwajibkan hanya 5 kali, bukan 50 kali, dalam sehari. Allah Maha Tahu apa yang sesungguhnya terjadi.

Yang menjadi perdebatan serius adalah bagaimana Muhammad dapat menempuh jarak Mekah-Yerusalem hanya sekejap? Juga apakah yang melakukan perjalanan itu ruh Muhammad saja atau juga termasuk jasadnya. Pertanyaan yang wajar untuk tingkat pengetahuan masyarakat pada masa itu. Kini, teori Einstein dapat menjelaskan kebingunan tersebut. Dari Teori Relativitas dapat dijelaskan bahwa zat (termasuk tubuh manusia) akan berubah wujud menjadi energi bila dibawa oleh energi (termasuk malaikat). Sedangkan energi dapat bergerak pada kecepatan yang sama dengan kecepatan cahaya, sekitar 300 ribu km per detik, sehingga jarak Mekah – Yerusalem dapat ditempuh dalam sekejap mata. Serupa dengan pemindahan singgasana Ratu Bilqis di masa Sulaiman.

Muhammad saat itu berusia 51 tahun. Perjalanan ke Baitul Maqdis serta Sidratul Muntaha itu kian mengobarkan semangat perjuangannya untuk menyeru seluruh umat manusia ke Jalan Allah. Apalagi, ia telah melihat sinar terang bagi Islam telah mulai terlihat di Yatsrib. (pesantren.net)

I-Medicine..

I-Medicine ke 3

I-Medicine ke 3

Kemoterapi, Khazanah Warisan Islam

Kemoterapi, Khazanah Warisan Islam

Setiap penyakit pasti ada obatnya. Demikian sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Muslim. Muhammad ibnu Ismail al-Bukhari (810 M-870 M) juga menegaskan hal tersebut dalam karyanya Sahih Bukhari, “Tidak ada penyakit yang dibuat oleh Allah tanpa ada pengobatannya.”

Allah menciptakan penyakit, Allah pula yang menyembuhkannya melalui seorang perantara, yaitu dokter. Dokter dipercaya menjadi seorang khalifah oleh Allah, untuk membantu menyembuhkan penyakit yang diderita pasien. Nidai, seorang dokter di abad ke- 16 M pernah mencoba memberikan nasihat kepada rekan-rekannya sesama dokter. Ia meminta kepada mereka untuk tidak berbangga diri karena berhasil menyembuhkan pasien.

Menurutnya, seorang dokter harus percaya bahwa kesembuhan datangnya dari Allah. “Jangan katakan saya telah menyembuhkan pasien, sebab asumsi itu adalah dusta. Penyakit dan pengobatan berasal dari Sang Pencipta. Dia lakukan apa yang jadi kehendak-Nya. Allah-lah yang berkendak,” tutur Nidai.

Para dokter Muslim di era kejayaan peradaban Islam mempercayai hal tersebut. Keimanan yang demikian itu mendorong mereka untuk terus berinovasi dalam dunia kedokteran. Sehingga, mereka berhasil mengidentifikasi ragam penyakit beserta obat dan metode pengobatannya tanpa bertentangan dengan keyakinan agama. Salah satunya adalah Kemoterapi.

Kemoterapi adalah metode pe rawat an penyakit dengan menggunakan zat kimia untuk membunuh sel penyakit kanker. Perawatan ini berfungsi untuk menghambat kerja sel. Dalam penggunaan modernnya, istilah ini merujuk kepada obat antineoplastik yang digunakan untuk melawan kanker.

Di dunia modern, untuk kemoterapi bisa digunakan satu jenis sitostika. Pada sejarah awal penggunaan kemoterapi digunakan satu jenis sitostika, namun dalam perkembangannya kini umumnya dipergunakan kombinasi sitostika atau disebut regimen kemoterapi, dalam usaha untuk mendapatkan hasiat lebih besar. Dalam penggunaan non-oncologi, istilah ini juga merujuk pada antibiotik (kemoterapi antibacterial). Dalam pengertian ini, kemoterapi modern pertama adalah arsphenamine karya Paul Ehrlich, sebuah Arsenic kompleks ditemukan pada tahun 1909 dan digunakan untuk merawat sipilis.

Ini kemudian diikuti oleh sulfonamides ditemukan oleh Domagk, dan penisilin ditemukan oleh Alexander Fleming. Tindakan kemoterapi paling sering digunakan untuk membunuh sel-sel kanker dengan memisahkan sel-sel itu dengan cepat. Hal ini berarti juga memisahkan dengan cepat sel-sel jahat dalam keadaan normal, seperti sel di sumsum tulang, sistem pencernaan dan kantong rambut (hair follicles).

Kegunaan lain dari kemoterapi cytostatic (sitostatik) adalah perawatan penyakit autoimmune seperti multiple sclerosis (sklerosa yang banyak), dan rheumatoid arthritis (radang sendi rheumatoid) dan penindasan penolakan pencangkokan (the suppression of transplant rejections). Namun, kemoterapi ini menimbulkan efek samping seperti rasa lelah fisik, mual dan muntah-muntah, diare atau sembelit, anemia, malnutrisi, kerontokkan rambut, bahkan kehilangan memori.

Melawan Kanker
Pada prinsipnya, kanker adalah pertumbuhan sel yang tak terkendalikan dan bersifat ganas. Kanker disebabkan oleh interaksi antara genetik dan lingkungan kerentanan toxin. Oleh karena itu, kemoterapi bekerja untuk memisahan sel dengan cepat. Terdapat beberapa strategi dalam sistem perawatan kemoterapi yang digunakan sekarang. Kemoterapi dapat diberikan dengan maksud kuratif atau bertujuan untuk memperpanjang hidup atau untuk meredakan gejala.

Sebagian besar kanker sekarang dirawat dengan cara ini. Kombinasi kemoterapi yang sama praktis itu melibatkan pengobatan pasien dengan jumlah obat yang berbeda secara bersamaan. Obat-obatan berbeda dalam mekanisme dan efek sam ping nya.

Dalam kemoterapi neoadjuvant (perawatan preoperative), kemoterapi dirancang untuk menyembunyikan tumor utama, sehingga terapi lokal (operasi atau radioterapi) merusak atau kurang lebih efektif. Kemoterapi adjuvant merupakan perawatan pasca operasi, dapat digunakan apabila ada sedikit bukti tentang kanker, tapi ada risiko kambuh.

Hal ini dapat membantu mengurangi peluang pengembangan resistensi jika tumor tidak berkembang. Ini juga berguna untuk membunuh setiap sel-sel kanker yang telah menyebar ke ba gian tubuh yang lain. Kemoterapi di berikan untuk menurunkan beban tu mor dan meningkatkan harapan hidup.

Semua cara kemoterapi mengharuskan pasien mampu menjalani perawatan. Performa status sering digunakan sebagai ukuran untuk menentukan apakah pasien dapat menerima kemoterapi, atau apakah dosis pengurangan diperlukan. “Karena hanya sebagian kecil dari sel tumor yang mati dengan masing-masing pengobatan (membunuh pecahan), dosis harus diulang untuk administratif untuk melanjutkan guna mengurangi ukuran tumor,” jelas Skeel, R. T. dalam Handbook of Cancer Chemotherapy.

Bahan kimia
Penggunaan bahan kimia sebagai obat kemoterapi dapat diusut dari peradaban India kuno. Sistem pengobatan tersebut disebut Ayurveda. Di dalam peradaban Islam ada seorang dokter dari Persia, yaitu Muhammad ibnu Zakaria al-Razi (Rhazes), pada abad 10 M yang menemukan metode kemoterapi.

Ia memperkenalkan penggunaan bahan kimia seperti asam belerang, tembaga, merkuri dan garam arsenic, sal ammoniac, scoria emas, kapur, tanah, karang, mutiara, dan alkohol untuk keperluan medis. Hal tersebut disebutkan dalam artikel bertajuk “Science, Technology and Medicine in the Roman Empire” yang mengambil referensi dari Bloch, R. dalam karyanya Etruscan science.

Bahan kimia ini digunakan kembali untuk kemoterapi kanker sekitar abad 20 M. Walaupun begitu, awalnya tidak dimaksudkan untuk tujuan itu. Gas mustard digunakan sebagai bahan kimia selama Perang Dunia I dan dipelajari lebih lanjut selama Perang Dunia II.

Al-Razi, Pencetus Kemoterapi

Salah satu tokoh Muslim yang berjasa di bidang kedokteran modern adalah al-Razi. Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad bin Zakaria al-Razi. Umat Islam mengenalnya dengan nama al-Razi.

Sedangkan masyarakat Barat menyebutnya Rhazes. Ia dilahirkan di Rayy, Teheran sekitar tahun 251 H./865 M. Pada tahun 313 H/925 M, ia menghembuskan nafasnya yang terakhir, dan meninggalkan segudang karya agung yang bermanfaat bagi umat manusia seluruhnya. Dalam tulisan berjudul “The Valuable Contribution of al-Razi (Rhazes) to the History of Pharmacy,” disebutkan bahwa kemoterapi pertama kali diperkenalkan seorang dokter Muslim legendaris bernama al-Razi alias Rhazes (865 M-925 M) pada abad ke-10 M.

Sesungguhnya dalam diri al-Razi terdapat banyak potensi. Tidak saja ilmu kedokteran yang dikuasainya, namun juga disiplin lain. Pada awalnya al-Razi sangat tertarik dengan seni musik. Seiring dengan perkembangan intelektualitasnya, ia kemudian menekuni beberapa disiplin ilmu pengetahuan lainnya seperti kimia, filsafat, logika, matematika dan fisika. Maka, tak heran jika sebagian besar masa hidupnya dihabiskan untuk mengkaji dan mengembangkan ilmu-ilmu yang dicintainya tersebut.

Beberapa ilmuwan Barat pun mengakui bahwa Al-Razi merupakan penggagas ilmu kimia modern. Hal ini dibuktikan dengan hasil karya tulis maupun hasil penemuan eksperimennya. Al-Razi berhasil memberikan informasi lengkap dari beberapa reaksi kimia serta deskripsi dan desain lebih dari dua puluh instrument untuk analisis kimia. Al-Razi dapat memberikan deskripsi ilmu kimia secara sederhana dan rasional. Dia juga disebut sebagai orang pertama yang mampu menghasilkan asam sulfat serta beberapa asam lainnya serta penggunaan alkohol untuk fermentasi zat yang manis.

Tetapi memang nama al-Razi lebih banyak disangkutpautkan dengan dunia kedokteran. Ia dikenal sebagai ahli pengobatan, walaupun awalnya seorang ahli kimia. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa al-Razi meninggalkan dunia kimia karena penglihatannya mulai kabur akibat ekperimen-eksperimen kimia yang meletihkannya. Dan dengan bekal ilmu kimianya yang luas itu, dia kemudian menekuni dunia medis-kedokteran. Di dunia itu, sang ilmuan juga banyak menelurkan karya dan teori-teori ilmiah. Misalnya, al-Razi mengatakan bahwa seorang pasien yang telah sembuh dari penyakitnya lebih disebabkan oleh respons reaksi kimia yang terdapat di dalam tubuh pasien tersebut.

Maka, tak heran jika kemoterapi pertama kali diperkenalkan oleh seorang dokter Muslim legendaris ini pada abad ke-10 M. Sebagaimana disebut dalam artikel berjudul “The Valuable Contribution of al-Razi (Rhazes) to the History of Pharmacy” di atas. Kepakaran al-Razi dalam bidang kedokteran dibuktikan dengan penemuan-penemuannya yang menjadi dasar pengembangan disiplin ini. Dialah orang pertama yang memperkenalkan penggunaan zat-zat kimia dan obat-obatan dalam pengobatan. Zat-zat kimia ini meliputi belerang, tembaga, merkuri dan garam arsenik, sal ammoniac, gold scoria, zat kapur, tanah liat, karang, mutiara, ter, aspal dan alkohol. she(republika online)

PELABUHANKU

Rabbi….
kala malam pekat menghampiri
ku sadar…
Cintaku pada-Mu tak seberapa
Cintaku pada-Mu hanya di bibir saja

Apa yang tlah ku lakukan untuk cintaku??
tak ada!!!
Aku hanya terbuai dengan kata-kataku
Aku hanya terlena dengan kemunafikanku
Tanpa ada yang ku lakukan…

Ya Rabb…
seandainya ku bisa
ku ingin cintaku kuserahkan hanya kepada-Mu
ku ingin hatiku di penuhi oleh-Mu

Ya Rabb…..
bantu aku menggapainya
jangan Kau biarkan cinta semu menenggelamkanku
jangan kau biarkan cinta pada makhluk-mu menghanyutkanku
karena ku ingin…
Kaulah pelabuhan cintaku..
Amiin…amiin ya rabbal’alamin…

BAHAGIAKAH AKU????

BAHAGIAKAH AKU????
Kebahagiaan bukanlah milik mereka yang ahli dalam kebencian, bukan pula milik mereka yang saling mengkotak-kotakkan diri, melainkan milik mereka yang selalu menebarkan salam dan cinta-kasih dengan beramal kebajikan sebaik-baiknya kepada seluruh makhluk Tuhan semesta alam. Mencintai adalah jalan menuju kebahagiaan. Allah membangun ‘Kerajaan Kebahagiaan’ di dalam ‘Kerajaan CintaNya’. Kebahagiaan hanya bisa diraih oleh orang-orang yang menasbihkan dirinya sebagai hamba ‘Cinta’, bukan hamba kebencian. Bukan hamba dendam. Bukan hamba keserakahan.

Kebahagiaan hanya milik orang-orang yang mencintai, bukan mereka yang menuntut untuk dicintai. Semakin kita menuntut, akan semakin sulit kita memperoleh kepuasan hidup. Sebaliknya, semakin kita berserah diri, maka kita akan semakin bahagia. Orang yang menuntut tidak pernah bisa merasakan apa yang dia miliki. Karena, orang yang menuntut selalu berpikir tentang apa yang akan datang. Ia hanya hidup di dalam angan-angan egonya belaka. Kebahagiaan sejati akan terpuaskan, justru ketika ia mampu meng-Nol-kan egonya, dan menundukkan hawa nafsunya.
Ia tak pernah menuntut apa-apa lagi, ia tidak memiliki sesuatu kecuali Allah, tidak juga mempunyai kebahagiaan kecuali kerinduan untuk bertemu denganNya, dan tidak memiliki kegembiraan kecuali dengan mendekat kepadaNya. Karena sesungguhnya, kebahagiaan yang terbesar ialah kebahagiaan ketika kita dekat dan berserah diri hanya kepada Allah. Dialah sumber segala kenikmatan dan kebahagiaan yang diidam-idamkan oleh seluruh makhlukNya
Sebagaimana do’a yang selalu kita panjatkan seusai shalat…
Allahumma antassalam waminkassalaam wa ilaika ya ‘udussalaam fa hayyina rabbana bissalaam wa ad khilna al jannata dar assalaam tabaarakta rabbana ya dzal jalaali wal ikraam.
‘Ya Allah, Engkaulah kebahagiaan (as salaam), dariMu bersumber segala kebahagiaan (as salaam), dan kepadaMu pula kembaliNya, maka hidupkanlah kami, Ya Allah di dunia ini dengan kebahagiaan (as salaam), dan masukkanlah kami kelak di negeri As salaam. Maha suci Engkau, Maha Mulia Engkau ya Tuhan kami, wahai Dzat yang Maha Agung dan Maha Mulia.’
Allah kebahagiaan itu, dan Ia sangatlah dekat dengan kita. Lalu…. masihkah kita harus mencari-cari kebahagiaan itu dengan melakukan hal-hal yang sia2???
Wallahu’alam

Bundha ini anak mu

Bundha ini anakmu yang dulu engkau kandung,
Bundha ini anakmu yang dulu engkau asuh
Bundha ini anakmu yang dulu kau besarkan dan kau manja
Read more »

SCALENUS 2009 usai, SCALENUS 2010 dimana ya???

Alhamdulillah, SCALENUS 2009 telah berjalan dengan lancar. 10 finalis dari berbagai propinsi di Sumatra bertarung selama 1 hari penuh, mempresentasikan karya tulis ilmiahnya di hadapan dewan juri yang berasal dari lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Riau dan Majelis Ulama Indonesia Provinsi Riau. Dan akhirnya, terpilihlah Geni Ayu Andari dari SMA Negeri 3 Payakumbuh sebagai Juara 1 dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah tingkat SMA se-Sumatera yang baru pertama kali digelar ini.

Dari helatan ini, banyak diterima masukan dari peserta maupun pembimbing. Diantaranya, agar para peserta bisa mendapatkan rekomendasi untuk masuk ke Fakultas Kedokteran di wilayah Sumatera jika memenangkan ajang ini. Juga, banyak yang bertanya-tanya kapan dan dimana SCALENUS berikutnya akan diadakan. So, who’s the next? Di Acehkah? Medan? Padang? Palembang? Jambi? Lampung? Bengkulu? Bangka Belitung? yang penting, maju terus FULDFK…Lanjutkan!!!….(kayak kampanye ya???)

Announcement!!!

Assalamu`alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dengan mengucapkan bismillahirrahmaanirrahiim, dewan juri Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat SMA se-Sumatera SCALENUS 2009 memutuskan utusan sekolah-sekolah berikut sebagai finalis Lomba Karya Tulis Ilmiah se-Sumatera SCALENUS 2009 untuk:

A. Wilayah Sumatera bagian Utara:

1. SMA Negeri 1 Bangkinang, judul karya tulis: Madu si Manis yang Diberkahi

2. SMAN Negeri 3 Payakumbuh, judul karya tulis: Al-Qur`an sebagai Landasan Pembelajaran Konsep Reproduksi dalam Proses Penciptaan Manusia

3. SMAN 9 Pekanbaru, judul karya tulis: Manfaat Wudhu bagi Kesehatan

4. Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang, judul karya tulis: The Power of Bekam

5. SMAN 9 Pekanbaru, judul karya tulis: Pandangan Islam terhadap KB

B. Wilayah Sumatera bagian Selatan:

1. SMAN 17 Plus Palembang, judul karya tulis: Klorofil, si Emas Hijau yang Bermanfaat

2. SMAN 5 Bengkulu, judul karya tulis: Puasa sebagai Aplikasi Nilai Islam yang Berperan dalam Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental

3. SMAN 2 Sekayu Musi Banyuasin, judul karya tulis: Keistimewaan Habbatus Sauda terhadap Sistem Imun

4. SMA 1 Pemali Bangka, judul karya tulis: Pandangan Islam Tentang Peranan Air Susu Ibu

5. SMA Kartika, Tama Metro, judul karya tulis: Sex Education di Kalangan Remaja dalam Pandangan Islam

Demikianlah, keputusan ini dibuat. Keputusan dewan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Pekanbaru-Lampung, 22 April 2009

Dewan juri:

Dr. Delita Zul M.Si

dr. Efhandi Nukman, SpM

MUI Pekanbaru

dr. Ismawati, M. Biomed

Dr. Sutyarso, M.Biomed

Dyah Wulan SRW, SKM., M.Kes

Kepada seluruh finalis:

1. Presentasi karya tulis dilaksanakan di Kampus Fakultas Kedokteran Universitas Riau pada tanggal 2 Mei 2009. Untuk itu, finalis harus menyiapkan presentasi dalam bentuk powerpoint.

2. Pengumuman pemenang dilaksanakan di Kampus Fakultas Kedokeran Universitas Riau pada tanggal 3 Mei 2009

3. Teknis acara presentasi karya tulis ilmiah akan dikirimkan ke email finalis hari ini juga. Silakan cek emailnya masing-masing.

4. Para finalis harap menginfokan berapa orang yang akan hadir untuk mempresentasikan karya tulisnya kepada:

  • Alin 085271386339
  • Ulzim 081365786294

download file teknis presentasi karya tulis ilmiah